Malang – Pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk kompos menjadi salah satu keterampilan pertanian yang dikenalkan kepada siswa SMK PP Kupang. Melalui praktik pembuatan kompos kilat yang dipandu Widyaiswara BBPP Ketindan, Sundoko, para siswa diajak memahami sekaligus mempraktikkan pengolahan limbah organik menjadi pupuk yang bermanfaat bagi pertanian.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan. Mereka aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan kompos, mulai dari pemilihan bahan, pencampuran, hingga aktivasi proses pengomposan.
Bahan yang digunakan berasal dari sumber daya yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti daun kering, rumput, sisa tanaman, dan bahan organik lainnya. Pemanfaatan bahan lokal tersebut memberikan pemahaman kepada siswa bahwa pengolahan limbah organik menjadi pupuk dapat dilakukan secara sederhana dan ekonomis.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya penguatan produktivitas pertanian melalui langkah yang efisien dan optimalisasi sumber daya yang tersedia. Pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk menjadi salah satu praktik yang sejalan dengan upaya mendorong pertanian yang efisien dan berkelanjutan.
Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia menjadi kunci dalam mengawal pembangunan pertanian dan peningkatan daya saing sektor pertanian nasional.
Pembelajaran melalui praktik menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi muda pertanian yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan teknis dan kemampuan memanfaatkan teknologi pertanian sesuai kebutuhan di lapangan.
Widyaiswara BBPP Ketindan, Sundoko, menjelaskan bahwa teknologi kompos kilat dapat menjadi solusi praktis dalam mengurangi limbah organik sekaligus menghasilkan pupuk yang bermanfaat bagi tanah.
“Melalui kompos kilat, limbah organik yang ada di sekitar kita dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai guna. Teknologinya sederhana dan dapat dipraktikkan dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan,” ujar Sundoko.
Menurut Sundoko, keterampilan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan praktik, tetapi dapat diterapkan siswa di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Bahkan, keterampilan pengolahan limbah organik dapat dikembangkan menjadi peluang usaha di bidang pertanian.
Praktik pengomposan juga memberikan pengalaman kepada siswa untuk melihat bahwa limbah pertanian dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna. Pendekatan tersebut sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan melalui pemanfaatan sumber daya secara lebih bijak.
Melalui pembelajaran berbasis praktik seperti ini, generasi muda diharapkan semakin dekat dengan teknologi pertanian sekaligus memiliki keterampilan yang dapat mendukung pertanian produktif, efisien, dan berkelanjutan. Asep Koswara/ Sundoko*
Diterbitkan di https://megapolitannews.com/2026/08/09/siswa-smk-antusias-praktik-pembuatan-kompos-di-upt-pelatihan-kementan/


