Farah Maulida, S.P.
Di tengah ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim, ketersediaan benih padi yang bermutu tinggi menjadi kunci utama ketahanan pangan. Namun, di level pelaku usaha, memproduksi benih unggul bukanlah sekadar soal menanam dan memanen. Ada kalkulasi ekonomi dan risiko teknis yang kerap membuat petani bimbang.
Sebuah riset terbaru yang dilakukan UPTD BPSBTPHBUN Provinsi Bali, mengungkap realita ekonomi di balik usahatani penangkaran benih padi. Berlokasi di Subak Delod Sema, Desa Sading, Kabupaten Badung, Bali, kawasan dengan luas sawah sekitar 64 hektar di ketinggian 50-100 mdpl, penelitian ini membandingkan kinerja finansial antara petani penangkar benih dan petani padi konsumsi.
Dalam mengevaluasi kinerja finansial, indikator Net Profit Margin (NPM) digunakan untuk melihat seberapa besar proporsi keuntungan bersih yang tersisa dari total penerimaan setelah dipotong biaya produksi. Hasilnya cukup mengejutkan. Rata-rata NPM usahatani penangkaran benih mencapai 28,40%. Sementara itu, rata-rata NPM usahatani padi konsumsi hanya sebesar 18,88%.
Secara sederhana, dari setiap Rp100 penerimaan yang didapatkan petani, penangkar benih mampu mengantongi laba bersih sekitar Rp28,40. Sebaliknya, petani padi konsumsi hanya membawa pulang keuntungan bersih sebesar Rp18,88. Perbedaan margin keuntungan ini telah diuji dan terbukti signifikan secara statistik. Tingginya margin ini bukan sekadar karena harga jual yang jauh lebih mahal. Faktanya, selisih harga jual antara Calon Benih Kategori Sertifikat (CBKS) dengan Gabah Kering Panen (GKP) untuk konsumsi di lokasi penelitian relatif kecil, yakni hanya terpaut sekitar Rp500/kg. Keuntungan yang lebih besar ini lahir dari kombinasi antara kapasitas menghasilkan total penerimaan yang lebih tinggi, mencapai rata-rata Rp22.547.044 per musim, dan keberhasilan memenuhi standar mutu benih.
Margin keuntungan yang tinggi pada penangkaran benih tidak datang secara instan. Produksi benih menuntut karakteristik pengelolaan yang jauh lebih kompleks dan intensif. Rata-rata pengeluaran petani penangkar benih mencapai Rp14.799.144 per musim, lebih tinggi dibandingkan petani padi konsumsi yang hanya menghabiskan Rp12.319.977. Biaya ekstra ini dialokasikan untuk pemeliharaan kemurnian varietas, proses roguing, pengawasan mutu, hingga pemenuhan syarat sertifikasi. Sebagai gambaran, pelaksanaan roguing yang dilakukan secara disiplin sebanyak dua kali terbukti mampu menghasilkan tingkat kemurnian benih hingga 99,12%.
Jika secara matematis menangkar benih lebih menguntungkan, mengapa masih banyak petani di Subak Delod Sema yang mempertahankan budidaya padi konsumsi? Jawabannya terletak pada manajemen risiko. Berdasarkan temuan di lapangan, keputusan rasional petani tidak hanya didikte oleh besaran angka di atas kertas. Produksi benih mengharuskan tanaman dipertahankan di lahan hingga mencapai tingkat kematangan fisiologis tertentu yang sesuai dengan syarat benih. Konsekuensinya, terjadi penundaan waktu panen.
Di mata petani, penundaan panen ini dipersepsikan sebagai ancaman. Semakin lama padi berada di sawah, semakin tinggi risiko kerontokan atau kehilangan hasil panen yang dipicu oleh faktor lingkungan dan cuaca. Petani padi konsumsi lebih memilih jalan aman, yakni menjual gabah segera setelah panen raya tiba tanpa memikirkan risiko penundaan.
Kajian benih padi ini memberikan pandangan kritis bagi pengambil kebijakan di sektor pertanian. Meskipun potensi economic return benih bersertifikat terbukti lebih tinggi, transisi petani menjadi penangkar benih terhambat oleh bayang-bayang risiko.
Ke depannya, riset dan intervensi kebijakan perlu difokuskan tidak hanya pada sosialisasi profit, melainkan pada jaring pengaman risiko. Aspek krusial seperti mitigasi kehilangan hasil panen, kepastian penyerapan benih oleh off-taker, pembeli jaminan, hingga jaminan ketepatan waktu pembayaran harus menjadi prioritas. Tanpa ekosistem perlindungan risiko yang memadai, potensi keuntungan dari penangkaran benih hanya akan menjadi deretan angka yang sulit dijangkau oleh mayoritas petani kecil.
Sumber referensi: Brigham, E. F., Ehrhardt, M. C. 2011. Financial Management: Theory and Practice (13th ed.). Mason, OH, South-Western Cengage Learning. Sayaka, B., Hidayat, D. 2015. Sistem Perbenihan Padi dan Karakteristik Produsen Benih Padi di Jawa Timur. Analisis Kebijakan Pertanian, 12(2), 185-202. Sinha, S., Nath, P. 2013. Economic comparison of paddy production using certified seed and commercial grain in North Bihar. ORYZA—An International Journal on Rice, 50(4), 407–411. Sultana, A., Salim, M., Kader, M. A., Akter, M. B., Kamruzzaman, M., & Hoque, M. I. 2019. Effect of Different Levels of Nitrogen & Phosphorus Fertilizer and Roguing on Seed Production of Rice in Bangladesh. International Journal of Plant & Soil Science, 27(4), 1–8
Editor: Saptini Mukti Rahajeng
Sumber Gambar : https://unsplash.com/


