HARAPAN DAN TANTANGAN (MUNAS II IKATAN WIDYAISWARA INDONESIA- CABANG KEMENTERIAN PERTANIAN)

Desember 7 hingga 9 di tahun 2016, dapat dijadikan moment yang refresentatif bagi Widyaiswara Kementerian Pertanian, karena selama 2 hari efektif inilah, segala bentuk keluhan, harapan dan tantangan atas kehadiran organisasi profesi yang diberi nama Ikatan Widyaiswara Indonesia Cabang  Kementerian Pertanian (IWI-CKP) dimusyawarahkan dalam bentuk Musyawarah Nasional ke II IWI CKP.

IWI CKP merupakan hasil dari inisiasi para Widyaiswara pendahulu di Departemen Pertanian dengan melalui perjalanan panjang sejak istilah widyaiswara itu ada, disandang dan menjadi sebuah profesi.

Munas II tahun 2016 diselenggarakan di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Kayu Ambon Lembang, dan lokasi ini terpilih setelah mengalami  berbagai perubahan situasi dan kondisi.

Kehadiran Ketua Umum Ikatan Widyaiswara Indonesia Dr. Al.Muktabar, MSc, sebagai penghantar informasi kekinian menyebutkan bahwa Widyaiswara sebagai sebuah organisasi profesi non independen sangat dituntut eksistensinya dalam situasi lingkungan strategis pembangunan nasional, untuk itu hal-hal yang terkait dengan pasca kongres IWI masih menjadi pekerjaan rumah yang memerlukan ekstra waktu dan tenaga, terlebih lagi pada pelaksanaan konsolidasi dan sosialisasi di 15 kementerian lembaga dimana widyaiswara itu ada. Mengawali  kemudahan semua itu untuk dilingkungan Kementerian Dalam Negeri, telah menetapkan Menteri Dalam Negeri sebagai Widyaiswara Kehormatan dan Widyaiswara Luar Biasa, dan untuk kemudahan perjalanan IWI di masing-masing kementerian lembaga, maka diharapkan pengurus IWI periode terpilih dapat mengadop apa yang dilakukan oleh kementerian dalam negeri, yaitu mengangkat menteri teknis Kementerian/ Lembaga sebagai Widyaiswara kehormatan dan Widyaiswara luar biasa.

Widyaiswara menurut Ketum merupakan Guru Bangsa yang kinerjanya saat ini baru dihargai sampai pada grade tertinggi pada level  13 untuk Widyaiswara Ahli Utama, dan untuk bisa menyamai level eselon I perlu dilakukan peninjauan kembali Permenpan nomor 22 tahun 2014 yang saat ini hanya memiliki 57 indikator kinerja. Selain itu pemikiran lain adalah memperbaharui istilah angka kredit menjadi angka capaian kinerja widyaiswara.

Lebih lanjut ketum menyampaikan bahwa saat ini terdapat ± 5000 widyaiswara , dengan 3903 WI yang sudah memiliki Nomor Induk Widyaiswara Nasional (sumber : http://siwi.lan.go.id/wi), dan untuk mengimplementasikan amanat UU Nomor 23 tahun 2014 di undangkan bahwa “ setiap aparatur Negara memiliki kompetensi”, sebuah mimpi besar yang ingin diraih menjadikan widyaiswara “ trainer of the world” , yaitu aparatur widyaiswara berkelas dunia.

Selanjutnya Ketum IWI menyatakan bahwa widyaiswara perlu lebih meningkatkan kompetensi menulis sebagai sebuah segmentasi untuk perolehan point dan koin, dan saat ini sedang mengupayakan jurnal IWI, dinyatakan pula bahwa merumpunkan kembali indikator-indikator kerja WI, menjadi bagian dari tugas pengurus IWI periode saat ini.

Aspek kelembagaan/organisasi IWI-CKP dikupas/ditelaah oleh Dr., Ir., Syahyuti., M.,Si. dari lembaga Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dengan judul Optimalisasi Peran WIDYAISWARA dalam Mewujudkan Penyuluhan Pertanian Modern, sub judul yang disampaikan terdiri dari : 1. Widyaiswara dalam sistem penelitian dan pengembangan teknologi pertanian 2. Analisis kelembagaan terhadap Widyaiswara 3. Widyaiswara sebagai komponen Penyuluhan Modern, namun dikarenakan keterbatasan substansi lebih diarahkan pada kelembagaan/organisasi WI bahwa sebuah Kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi, lembaga litbang, badan usaha, dan lembaga penunjang. Selain itu sebuah lembaga profesi  dalam meningkatkan keahlian, kepakaran, serta kompetensi manusia dan pengorganisasiannya, setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab mengembangkan struktur dan strata keahlian, jenjang karier sumber daya manusia, serta menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang adil di lingkungannya sesuai dengan kebutuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga Untuk menjamin tanggung jawab dan akuntabilitas profesionalisme, organisasi profesi wajib menentukan standar, persyaratan, dan sertifikasi keahlian, serta kode etik profesi.

Pada Analisis Kelembagaan WI Objek nya Analisis UU no 18 tahun 2002 sebagai pedoman Apakah UU ini diterapkan, dijadikan pedoman, diterima, ditolak? Bagian mana yg diterima, kenapa? Permenpan No 22 - 2014 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara Dan Angka Kreditnya Persepsi WI dan pihak lain terhadap aturan ini? Realisasi dan kendalanya bagaimana? Apakah positif mendorong profesionalisme WI? Angka kredit cukup adil? Permentan No 30 – 2014 tentang Pedoman Pengembangan Profesi onalisme WI Kementan Persepsi WI dan pihak lain terhadap aturan ini? Realisasi dan kendalanya bagaimana? Peraturan daerah Pemda tentang penganggaran dan pengorganisasian Kajian kebijakan, konsistensi nya dengan UU di atasnya, bagaimana realisasinya? Pedoman untuk manajemen kerja WI Apakah pedoman ini ada? Apakah bisa dijalankan, apa masalahnya, bagaimana konsistensinya dengan teori dan kebijakan di atasnya?

Untuk Objek Analisis Norma-norma kerja pada profesi WI Bagaimana WI memandang pekerjaannya, apakah sesuatu yang baik atau tidak? Apakah bangga menjadi WI? Apakah puas menjadikan WI sebagai profesi? Persepsi tentang peran WI dalam sistem inovasi teknologi pertanian Apakah peran WI harus dan tidak tergantikan? Adakah opsi aktor lain? Apakah metodenya masih efektif? Nilai-nilai dalam materi pelatihan Apakah memberikan materi yang sesuai dengan etika peserta?

Untuk Objek Analisis Pengetahuan pengambil kebijakan ttg kegiatan pelatihan Bagaimana tingkat pengetahuan pengambil kebijakan tentang konsep dan teori pelatihan? Apakah sama dengan WI? Apa agenda tersembunyi di belakangnya? Pengetahuan tenaga WI tentang kebijakan, organisasi, dan metode pelatihan Bagaimana pengetahuan dan persepsi tenaga WI (tua, muda, laki-laki, perempuan) Apa pengetahuan peserta tentang kegiatan pelatihan? Apakah pelatihan perlu atau tidak? Apa latar sosial ekonomi sehingga itu terbentuk? Pengetahuan peserta tentang materi pelatihan Bagaimana persepsi peserta tentang materi yang disampaikan? Sesuai dengan kebutuhan peserta atau tidak? Bagaimana itu terbentuk? Bagaimana persepsi peserta dapat menjadi feed back?

Pada objek Analisis Struktur keorganisasian pelaksana pelatihan Organisasi apa saja yang terlibat dari atas sampai bawah? Puslit, Badan Pelatihan Pemda, perguruan tinggi, NGO, dll? Kinerja organisasi Bagaimana kinerja organisasi pelatihan yg eksis? Kuat, atau lemah? Dimana dan kenapa? Kapasitas organisasi pelatihan Bagaimana kemampuan Balai Latihan menjalankan pelatihan? Apakah pihak lain mampu membantu nya, misal P4S? Mengapa? Kondisi dan kinerja organisasi WI Apa saja organisasi WI yang eksis dan apa perannya? Bagaimana relasi antar organisasi WI? (http://www.slideshare.net/syahyuti/optimalisasi-widyaiswara-lembang-5-des-yuti).

Acara dilanjut dengan pengarahan dari Ir. Hari Priyono., M.,Si. Beliau adalah Sekretaris Jenderal di Kementerian Pertanian. Pada kesempatan ini disampaikan bahwa pertemuan dengan WI ini memang harapannya. Hal ini terkait dengan permasalahan nasional yang menjadi sumbatan performance belum siknifikan. Demikian banyaknya teknologi sebagai input dan juga hasil-hasil inovasi dari penelitian dan pengembangan pertanian, namun belum dapat menunjukkan performance yang bagus. Beliau menganalogkan ketika seseorang mau berinvestasi di Indonesia, dan sudah barang tentu investor tersebut akan saling membaca pasar (ketersediaan produk, dan spesifikasi bisnis yang mau dijalankan). Pertanyaan mendasar yang diungka oleh beliau adalah Apakah kita semua sudah memiliki pemahaman yang cukup mengenai agrobisnis dan agroindustri. Bagaimana upaya kita untuk merancang cara berfikir industri ketika sawah di pola pikirkan sebagai sebuah pabrik dan tidak hanya sekedar sepetak sawah saja. Oleh karena itu  harus berfikir sepanjang tahun produk tersebut haruslah berkelanjutan, dengan mengoptimalkan air irigasi dikala musim kemarau, mindset sawah sebagai pabrik perlu diikuti dengan sebuah bisnis plan, sehingga bahan baku bagi industri tersedia sepanjang waktu.

Di fungsi kediklatan perlu menetapkan indikator-indikator yang akan menjadi ukuran bagaimana mengelola manajemen perubahan kedalam exiting dan delivery technology, sebuah tanggungjawab besar dan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan penyelenggaraan diklat yang bersumber anggaran dari DIPA saja, perlu perubahan kurikulum dan dilakukannya try out dari kurikulum yang disusun, sudahkah?????

Tantangan kedepan bagi lembaga diklat adalah replikasi nasional yang diwujudkan dalam diklat ke wilayah kerja UPT, serta networking kelembagaan kediklatan.

Kegiatan berlanjut dengan pertanggungjawaban kepengurusan priode 2011-2016 yang disampaikan oleh Ketua IWI Bpk. Drh. Sumarno. Dari matrik kegiatan yang dipaparkan, masih terdapat beberapa yang belum terisi. 

Acara pemilihan ketua IWI  baru memberikan warna dan suasana keakraban dengan merujuk pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, maka acara ini dipandu oleh WI tertua dan tertua beserta beberapa Koordinator WI terpilih. Ada banyak harapan dan tantangan yang disampaikan oleh peserta Munas II ini dan sudah barang tentu akan diedarkan secara resmi hasil munas ini. Setiap Balai mengusulkan calonnya dan kemudian diminta untuk memaparkan visi dan misi, ada yang serius menyampaikan dan ada juga yang bermain, tapi itulah dinamika dengan berbagai karakter widyaiswara. Hasil akhir terpilih sebagai ketua Dr.Ir.Ajat Jatnika, MS. Dari BBPP Lembang. Sedangkan kepengurusan lainnya akan ditetapkan kemudian, dan dalam waktu yang sesegera mungkin.

Bersamaan dengan MUNAS II ini, musibah kembali terjadi menimpa saudara-saudara kita di PIDIE JAYA D.I. ACEH dan sebagai bentuk solidaritas atau bakti sosial pertama pada priode kepengurusan ini, peserta secara spontan mengulurkan bantuan dan terkumpulkan sejumlah Rp. 4.200.000,- Sumbangan tersebut diserahkan oleh Ka. BBPP kayu ambon Lembang kepada WI yang berasal dari D.I. Aceh.

Munas II ditutup oleh Ka. BBPP Lembang, dengan satu motivasi bahwa kedepannya peran WI semakin tidak ringan, bagaimana performance balai masing-masing dapat dijadikan sebuah replikasi nasional.

Bagikan Artikel :