MALANG – Menguasai pertanian modern tidak cukup hanya dengan mampu membudidayakan tanaman. Pengetahuan tentang pascapanen, pengelolaan mutu, pengemasan, hingga distribusi menjadi kompetensi penting agar produk pertanian mampu memberikan nilai tambah dan memenuhi kebutuhan pasar. Semangat inilah yang diperkenalkan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan kepada generasi muda melalui pembekalan strategi distribusi produk segar.
Pembekalan tersebut menjadi bagian dari kegiatan Praktik Kerja Industri (Prakerin) bagi siswa sekolah kejuruan pertanian. Tidak hanya mendapatkan pengalaman budidaya berbasis smart farming di greenhouse, peserta juga diajak memahami tahapan pengelolaan produk setelah panen hingga siap dipasarkan kepada konsumen.
Bagi generasi muda pertanian, pemahaman terhadap rantai bisnis tersebut menjadi bekal penting untuk melihat pertanian secara lebih utuh. Pertanian tidak berhenti pada proses menghasilkan produk, tetapi berlanjut pada bagaimana menjaga kualitas, menentukan nilai jual, memenuhi kebutuhan pasar, dan memastikan produk sampai kepada konsumen dalam kondisi terbaik.
Widyaiswara BBPP Ketindan, Nining Hariyani, Jumat (21/8/2026) menjelaskan, distribusi buah segar merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas produk sepanjang rantai pasok. Proses tersebut dimulai dari penanganan setelah panen, penyimpanan, sortasi dan grading, pengemasan, hingga pemilihan sarana distribusi yang sesuai.
“Distribusi buah segar merupakan pemindahan buah dari greenhouse menuju pelanggan melalui sistem logistik yang aman, mulai dari penyimpanan di cold storage, sortasi dan grading buah sesuai mutu dan tingkat kematangan, pengemasan yang tepat hingga pemilihan sarana distribusi yang tepat, aman, dan cepat,” jelas Nining.
Menurutnya, setiap tahapan memiliki peran dalam mempertahankan mutu produk. Penanganan yang tepat dapat memperlambat proses pematangan, mengurangi kerusakan, menjaga kesegaran, serta memperpanjang umur simpan buah selama penyimpanan maupun pengiriman.
“Selain itu, teknologi cold chain juga dapat memperlambat proses respirasi buah. Suhu yang stabil, baik di dalam cold storage maupun mobil berpendingin, dapat membantu menjaga kualitas dan rasa. Distribusi menjadi lebih aman untuk jarak jauh dan kehilangan hasil panen dapat ditekan melalui penanganan yang tepat. Hal tersebut tentu dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan dan nilai tambah produk,” ungkap Nining.
Pembelajaran tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta Prakerin mengenai bagaimana produk pertanian diperlakukan setelah dipanen sebelum sampai ke konsumen. Salah satunya dirasakan Lidya, peserta Prakerin dari SMKN 1 Purwosari.
Lidya mengaku memperoleh pengalaman baru dalam memahami penanganan pascapanen dan distribusi produk segar. Bersama peserta lainnya, ia telah mempraktikkan proses sortasi, grading, pengemasan, hingga distribusi buah sesuai kebutuhan pasar.
“Alhamdulillah, saya banyak belajar tentang pascapanen dan distribusi produk yang tepat di sini,” ujar Lidya.
Menurutnya, proses sortasi dan grading menjadi tahapan penting untuk memastikan kualitas produk sesuai dengan permintaan pasar. Tanpa penanganan tersebut, kualitas buah dapat menurun, nilai jual berkurang, bahkan berpotensi menimbulkan keluhan dari pelanggan.
Untuk menjaga kesegaran produk, peserta juga dikenalkan dengan penerapan sistem cold chain melalui penyimpanan buah di cold storage dengan suhu yang sesuai. Pengetahuan tersebut memberikan pemahaman bahwa kualitas produk yang dihasilkan dari proses budidaya harus dipertahankan hingga sampai ke tangan konsumen.
Selain menjaga mutu, peserta juga belajar menentukan teknik pengemasan sesuai karakteristik produk dan kebutuhan distribusi. Buah ditata dengan baik menggunakan sarana pengemas yang sesuai, seperti mika, kardus, maupun peti kayu.
Selanjutnya, produk dapat didistribusikan melalui berbagai alternatif sarana transportasi, mulai dari layanan berbasis aplikasi, ojek lokal, kereta api, hingga mobil berpendingin. Pemilihan sarana distribusi disesuaikan dengan jarak, waktu tempuh, karakteristik produk, serta kebutuhan pelanggan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembekalan generasi muda agar memahami bahwa pertanian modern memiliki rantai bisnis yang luas dan membuka peluang bagi berbagai bidang pekerjaan maupun kewirausahaan. Kompetensi di bidang pascapanen dan distribusi juga menjadi peluang bagi generasi muda untuk mengambil peran pada sektor hilir pertanian.
Hal tersebut sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang terus mendorong generasi muda mengambil peran sebagai pelaku utama pembangunan pertanian nasional. Pertanian saat ini telah berkembang menjadi sektor modern berbasis teknologi yang membuka peluang bagi generasi muda untuk berwirausaha, berinovasi, sekaligus berkontribusi dalam mewujudkan swasembada pangan.
Mentan Amran juga menekankan bahwa masa depan pertanian Indonesia sangat bergantung pada hadirnya generasi muda yang berani terjun ke sektor pertanian dengan memanfaatkan inovasi dan teknologi. Regenerasi petani, menurutnya, perlu dibarengi dengan perubahan cara pandang bahwa pertanian merupakan sektor bisnis modern yang memiliki peluang besar.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa regenerasi petani harus diikuti dengan penguatan kapasitas generasi muda secara berkelanjutan. Generasi muda pertanian perlu dibekali kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi, kebutuhan industri, dan dinamika pasar agar mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian di daerah.
Pembekalan Prakerin di BBPP Ketindan menjadi salah satu bentuk nyata penguatan kapasitas tersebut. Peserta tidak hanya belajar menghasilkan produk melalui teknologi smart farming, tetapi juga memahami bagaimana mempertahankan kualitas dan mendistribusikannya hingga sampai kepada konsumen.
Rangkaian pembelajaran dari hulu hingga hilir tersebut diharapkan dapat membuka wawasan generasi muda bahwa peluang di sektor pertanian sangat luas. Mereka tidak hanya dapat menjadi pelaku budidaya, tetapi juga dapat berkembang di bidang pascapanen, logistik, pemasaran, pengolahan, kewirausahaan, maupun berbagai bidang pendukung agribisnis lainnya. Nining Hariyani*


