BOJONEGORO – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro terus mendorong transformasi pertanian berbasis teknologi melalui Sekolah Lapang (SL) Petani Smart Farming Budidaya Cabai Rawit Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di demplot Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (25/7/2026) lalu, diikuti oleh 35 petani sebagai upaya meningkatkan kemampuan budidaya cabai secara presisi sekaligus mendukung stabilitas produksi komoditas strategis penyumbang inflasi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa transformasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi menjadi kunci meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.
“Pertanian Indonesia harus bertransformasi menuju pertanian modern berbasis teknologi. Dengan memanfaatkan inovasi dan digitalisasi, produktivitas meningkat, biaya produksi lebih efisien, dan kesejahteraan petani dapat terus ditingkatkan,” tegas Mentan Amran.
Pada pertemuan kali ini, peserta mendapatkan materi mengenai monitoring pertumbuhan dan pemeliharaan tanaman cabai pada fase 14 Hari Setelah Tanam (HST). Fase ini merupakan periode penting ketika tanaman mulai memasuki pertumbuhan aktif setelah melewati masa adaptasi, sehingga memerlukan pengamatan yang cermat agar pertumbuhan berlangsung optimal.
Fasilitator BBPP Ketindan, Saptini Mukti Rahajeng, menjelaskan bahwa pendekatan Smart Farming mengubah cara petani melakukan pengamatan di lapangan dari yang sebelumnya mengandalkan pengalaman menjadi berbasis data.
“Kami mengajak petani melakukan observasi secara presisi melalui aplikasi yang tersedia di telepon pintar serta memanfaatkan alat digital yang mudah dijangkau. Dengan indikator yang terukur, petani dapat mengambil keputusan budidaya secara lebih tepat dan efisien,” jelasnya.
Dalam praktik lapangan, petani dilatih memantau kondisi tanaman menggunakan berbagai perangkat sederhana, seperti sensor kelembapan tanah, alat ukur pH, hingga TDS/EC meter untuk mengetahui konsentrasi nutrisi. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan irigasi, perbaikan kondisi tanah, maupun pemberian nutrisi sehingga penggunaan air dan pupuk menjadi lebih efisien.
Selain itu, peserta juga mempraktikkan sistem fertigasi, yaitu teknik pemupukan yang dilakukan bersamaan dengan pengairan. Melalui metode ini, kebutuhan pupuk dihitung sesuai fase pertumbuhan tanaman sehingga nutrisi yang diberikan lebih tepat sasaran dan mendukung penerapan pemupukan berimbang sebagaimana didorong Kementerian Pertanian.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia merupakan fondasi utama dalam mempercepat adopsi teknologi di sektor pertanian.
“Peningkatan kompetensi petani melalui pelatihan menjadi kunci agar inovasi dan teknologi dapat diterapkan secara efektif di lapangan. SDM pertanian yang unggul akan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing pertanian Indonesia,” ujar Idha.
Melalui Sekolah Lapang ini, petani didorong menjadi pelaku usaha tani yang mampu mengambil keputusan berdasarkan data (data-driven farming), bukan semata berdasarkan pengalaman. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menekan risiko kegagalan budidaya, meningkatkan efisiensi penggunaan sarana produksi, serta menjaga produktivitas tanaman cabai di tengah tantangan perubahan iklim.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen BBPP Ketindan dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap teknologi, sehingga inovasi Smart Farming dapat diterapkan secara luas dan berkelanjutan. Harapannya, praktik baik yang telah diterapkan di Desa Klepek dapat direplikasi di wilayah lain guna memperkuat produksi cabai, menjaga stabilitas pasokan, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Ajeng*


