Telp/Fax 0341-927123 / 429725

|

Distrik Tanah Miring Papua Selatan Gelar Pelatihan Brigade Pangan Angkatan V

Yeniartha
Mar 06, 2026

TANAH MIRING – Upaya penguatan kapasitas sumber daya manusia sektor pertanian terus dilakukan melalui Pelatihan Brigade Pangan (Manajemen Alsintan) Angkatan V yang berlangsung pada 26–28 Februari 2026 di Distrik Tanah Miring, Provinsi Papua Selatan. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan teknis dan manajerial peserta dalam mengelola alat dan mesin pertanian (alsintan) secara profesional, efektif, dan berkelanjutan. Pelatihan ini mengusung pendekatan terpadu, menggabungkan teori, praktik, serta perencanaan tindak lanjut, sehingga peserta tidak hanya memahami aspek pengoperasian, tetapi juga mampu mengelola alsintan sebagai bagian dari sistem usaha tani modern.

Kegiatan hari pertama diawali dengan persiapan panitia dan pengarahan program, dilanjutkan dengan pembukaan resmi. Untuk mengukur pemahaman awal peserta, panitia melaksanakan pre-test sebelum memasuki sesi materi inti. Materi utama pada hari pertama adalah pengenalan, pengoperasian, dan perawatan traktor roda 4 (TR 4). Sesi ini dipandu oleh Elvin Alang dan Iriyani Y. Parera, serta Yudi Winarko.

Dalam sesi ini, peserta mendapatkan pemahaman mendalam tentang komponen utama dan fungsi traktor roda empat, teknik pengoperasian yang aman dan efisien, perawatan harian dan berkala, dan identifikasi gangguan ringan dan langkah penanganannya.

Traktor roda empat menjadi fokus utama karena perannya yang vital dalam pengolahan lahan, mulai dari pembajakan hingga persiapan tanam. Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu mengoptimalkan penggunaan alsintan sehingga waktu kerja lebih efisien dan biaya operasional dapat ditekan. Sementara itu di hari kedua materi tentang optimalisasi rice transplanter dan combine harvester. Mulai dari pengenalan, pengoperasian, dan perawatan rice transplanter serta combine harvester. Kedua jenis alsintan ini memegang peranan penting dalam proses tanam dan panen padi modern. Pada sesi rice transplanter, peserta dilatih memahami prinsip kerja mesin tanam padi, pengaturan jarak tanam dan kedalaman tanam, perawatan komponen mesin, strategi mengurangi kerusakan bibit saat penanaman. Sementara itu, pada sesi Combine Harvester, peserta mendapatkan pembekalan tentang sistem kerja mesin panen terpadu, teknik panen yang meminimalkan kehilangan hasil, perawatan sistem pemotong dan perontok, standar keselamatan kerja di lapangan.

Para fasilitator menekankan pentingnya pemeliharaan rutin sebagai langkah preventif untuk memperpanjang umur pakai alsintan. Dengan penguasaan teknologi ini, diharapkan proses tanam dan panen menjadi lebih cepat, seragam, dan produktif.

Dan di hari ketiga tentang penguatan manajemen dan rencana tindak lanjut. Hari terakhir pelatihan difokuskan pada aspek manajemen usaha tani. materi catatan usaha tani mencakup pembuatan rekening kelompok, rekening penyusutan alsintan, serta pencatatan transaksi operasional.

Peserta diajak memahami bahwa keberhasilan pengelolaan alsintan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh tata kelola administrasi dan keuangan yang transparan. Materi ini bertujuan membangun budaya pencatatan yang rapi dan akuntabel dalam kelompok tani.

Selain itu, peserta bersama fasilitator menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bentuk komitmen penerapan ilmu di lapangan. RTL ini diharapkan menjadi panduan konkret dalam pengelolaan Brigade Pangan di wilayah masing-masing.

Pelatihan Brigade Pangan Angkatan V ini menjadi bagian dari strategi penguatan ketahanan pangan di Provinsi Papua Selatan. Dengan meningkatnya kapasitas operator dan pengelola alsintan, produktivitas pertanian diharapkan dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini tidak hanya membekali peserta dengan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan semangat kerja sama, tanggung jawab kelompok, serta orientasi pada hasil. Sinergi antara kemampuan teknis dan manajemen yang baik diyakini akan menciptakan sistem pertanian yang lebih modern, efisien, dan mandiri.

Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa penguatan kapasitas petani dalam penguasaan teknologi pertanian merupakan kunci peningkatan produksi pangan nasional.

“Modernisasi pertanian harus diikuti dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia di lapangan. Dengan penguasaan alat dan mesin pertanian yang baik, petani dapat meningkatkan efisiensi kerja, mempercepat proses budidaya, dan pada akhirnya meningkatkan produksi pangan nasional,” ujar Amran.

Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa pelatihan brigade pangan merupakan salah satu strategi pemerintah dalam mendorong percepatan adopsi teknologi pertanian modern di daerah sentra produksi.

“Brigade pangan diharapkan menjadi motor penggerak modernisasi pertanian di wilayahnya. Mereka tidak hanya mampu mengoperasikan alsintan, tetapi juga mengelola pemanfaatannya secara profesional, terencana, dan berkelanjutan,” jelas Arsanti.

Penulis: Solikin/ Humas BBPP Ketindan

Similar Post