Telp/Fax 0341-927123 / 429725

|

Penyuluh Pertanian Jombang Perkuat Kapasitas Pendampingan Brigade Pangan Mendukung Swasembada Pangan

Nadif
Jun 11, 2026

Jombang – Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia pertanian dalam mendukung program strategis swasembada pangan nasional. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Penyuluh Pendamping dan Calon Penyuluh Pendamping Brigade Pangan Kabupaten Jombang yang dilaksanakan pada tanggal 4–5 Juni 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 53 orang peserta yang seluruhnya berasal dari unsur penyuluh pertanian yang akan bertugas mendampingi Brigade Pangan di berbagai wilayah Kabupaten Jombang.

Program Brigade Pangan merupakan salah satu langkah transformasi sektor pertanian yang digagas Kementerian Pertanian untuk mendorong lahirnya kelembagaan petani modern yang mampu mengelola usaha pertanian secara profesional, berorientasi bisnis, serta memanfaatkan teknologi pertanian modern.

Menteri Pertanian dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa Brigade Pangan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi pangan nasional, tetapi juga menjadi sarana regenerasi petani melalui keterlibatan petani muda dalam pengelolaan usaha pertanian yang lebih maju, efisien, dan menguntungkan. Brigade Pangan diharapkan menjadi motor penggerak peningkatan indeks pertanaman, produktivitas lahan, serta pendapatan petani melalui pemanfaatan mekanisasi pertanian dan penguatan kelembagaan ekonomi petani.

Sejalan dengan arahan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa keberhasilan Brigade Pangan sangat ditentukan oleh kualitas pendampingan yang dilakukan oleh penyuluh pertanian.

“Penyuluh tidak hanya berperan sebagai penyampai teknologi, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan pendamping yang membantu petani membangun organisasi yang kuat, mengelola usaha secara profesional, serta mengembangkan kemitraan yang berkelanjutan,” kata Idha.

Oleh karena itu, peningkatan kapasitas penyuluh pendamping menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan program Brigade Pangan di lapangan.

Pelatihan ini dilaksanakan menggunakan metode blended learning, yaitu kombinasi pembelajaran daring dan luring. Kegiatan diawali dengan sesi pembelajaran secara daring yang bertujuan memberikan pemahaman dasar mengenai konsep dan kebijakan Brigade Pangan. Selanjutnya, peserta mengikuti pembelajaran tatap muka selama dua hari yang berlangsung secara interaktif melalui ceramah, diskusi, studi kasus, dan berbagi pengalaman lapangan. Metode ini dipilih agar peserta tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan pendampingan sehari-hari. Sesi luring dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada para penyuluh yang selama ini telah menjadi ujung tombak pembangunan pertanian di tingkat lapangan. Beliau juga memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar terus meningkatkan kompetensi dan semangat dalam mendampingi petani. Menurutnya, keberhasilan Brigade Pangan tidak hanya ditentukan oleh bantuan sarana dan prasarana yang diberikan pemerintah, tetapi juga oleh kemampuan penyuluh dalam menggerakkan petani, membangun kepercayaan, serta mengawal pengembangan kelembagaan dan usaha pertanian secara berkelanjutan.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai Penerapan Teknologi Pertanian Modern, yang membahas pentingnya pemanfaatan mekanisasi dan teknologi dalam meningkatkan efisiensi usaha tani. Materi ini menekankan bahwa pengelolaan pertanian modern tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga harus mampu menekan biaya usaha, meningkatkan kualitas hasil, dan mempercepat proses budidaya. Penyuluh diharapkan mampu mendampingi Brigade Pangan dalam mengoptimalkan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), menyusun jadwal operasional yang efektif, serta memastikan pemeliharaan alsintan dilakukan secara terencana sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi yang maksimal bagi kelompok.

Materi berikutnya adalah Teknik Pendampingan Efektif, yang membekali peserta dengan keterampilan komunikasi, fasilitasi kelompok, penyelesaian masalah, dan pemberdayaan petani. Dalam materi ini ditekankan bahwa penyuluh harus mampu menjadi mitra petani dalam proses pengambilan keputusan, bukan sekadar penyampai informasi. Pendampingan yang efektif dilakukan melalui pendekatan partisipatif yang mendorong petani terlibat aktif dalam setiap tahapan pengembangan usaha. Penyuluh juga didorong untuk mampu membangun jejaring kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga keuangan, pelaku usaha, dan offtaker guna mendukung keberlanjutan usaha Brigade Pangan.

Menurut Nunung Nurhadi, Widyaiswara BBPP Ketindan, salah satu materi penting dalam pelatihan ini adalah Manajemen Brigade Pangan. Materi tersebut membahas bagaimana Brigade Pangan dapat berkembang dari kelompok penerima program menjadi kelembagaan agribisnis yang mandiri. Peserta mempelajari tahapan pengembangan Brigade Pangan mulai dari pembentukan organisasi, penguatan tata kelola, pengelolaan jasa alsintan, pengembangan usaha budidaya, hingga penguatan jejaring usaha dan kemitraan. Selain itu, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai penyusunan struktur organisasi yang efektif, pembagian tugas yang jelas, penyusunan SOP pelayanan, pengelolaan administrasi, serta strategi membangun kepercayaan petani melalui pelayanan yang profesional dan transparan.

Lebih lanjut, Nunung menjelaskan bahwa keberhasilan Brigade Pangan sangat bergantung pada kemampuan organisasi dalam mengelola usaha secara berkelanjutan. Oleh karena itu, peserta juga dibekali pemahaman mengenai transformasi Brigade Pangan menjadi unit bisnis agribisnis yang mampu menghasilkan pendapatan mandiri melalui berbagai layanan, seperti jasa olah tanah, jasa tanam, jasa panen, penyediaan sarana produksi, hingga pengembangan usaha budidaya dan hilirisasi hasil pertanian. Dengan pendekatan tersebut, Brigade Pangan diharapkan tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi mampu tumbuh sebagai kelembagaan ekonomi petani yang kuat dan berdaya saing.

Materi terakhir yang diberikan adalah Literasi Keuangan, yang menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan Brigade Pangan. Dalam sesi ini peserta mempelajari prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel, mulai dari penyusunan rencana anggaran, pencatatan transaksi, penyusunan laporan keuangan, hingga pengelolaan pembagian hasil usaha. Literasi keuangan yang baik diharapkan dapat membantu Brigade Pangan mengembangkan usaha secara sehat dan meningkatkan kepercayaan anggota maupun mitra usaha.

Melalui pelatihan ini, diharapkan para penyuluh pendamping dan calon penyuluh pendamping Brigade Pangan Kabupaten Jombang memiliki kompetensi yang lebih baik dalam mengawal pengembangan kelembagaan, usaha, dan teknologi pertanian di lapangan. Dengan dukungan penyuluh yang kompeten, Brigade Pangan diharapkan mampu menjadi penggerak pertanian modern, meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani, serta berkontribusi nyata dalam mewujudkan swasembada pangan nasional yang berkelanjutan. Nurhadi*

Diterbitkan di https://megapolitannews.com/2026/06/11/penyuluh-pertanian-jombang-perkuat-kapasitas-pendampingan-brigade-pangan-mendukung-swasembada-pangan/

Similar Post