Malang – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan menggelar Pelatihan Teknis bagi Penyuluh Pertanian dalam Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan Angkatan VIII, IX, X, dan XI secara daring, Rabu (3/6/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh 131 penyuluh pertanian dari Kabupaten Bangkalan, Jember, Jombang, dan Banyuwangi.
Pelatihan bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi penyuluh pertanian, khususnya penyuluh pendamping Brigade Pangan serta penyuluh yang mendampingi petani pada lokasi optimalisasi lahan (oplah) tahun 2025 dan calon lokasi oplah tahun 2026.
Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 3–5 Juni 2026, dengan metode blended learning yang memadukan pembelajaran daring dan luring. Pembelajaran daring dilaksanakan selama satu hari, sedangkan dua hari berikutnya dilakukan secara luring di lokasi masing-masing peserta. Angkatan VIII dilaksanakan di BPP Galis Kabupaten Bangkalan, Angkatan IX di Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember, Angkatan X di Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, dan Angkatan XI di BPP Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi.
Sebanyak 131 peserta mengikuti pelatihan ini, terdiri atas 10 penyuluh dari Kabupaten Bangkalan, 50 penyuluh dari Kabupaten Jember, 53 penyuluh dari Kabupaten Jombang, dan 18 penyuluh dari Kabupaten Banyuwangi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penyuluh pertanian merupakan ujung tombak pembangunan pertanian sekaligus kunci dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Penyuluh berperan mengawal berbagai program prioritas pemerintah, mulai dari peningkatan produksi, optimalisasi lahan, hingga percepatan adopsi inovasi dan teknologi di tingkat petani.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya penguatan kapasitas dan komitmen penyuluh dalam mendukung program swasembada pangan. Menurutnya, penyuluh memiliki peran vital dalam memastikan program pembangunan pertanian berjalan efektif melalui pendampingan intensif kepada petani dan penguatan kelembagaan pertanian di lapangan.
Pelatihan dibuka oleh Ketua Kelompok Substansi Penyelenggaraan Pelatihan BBPP Ketindan, Junni Fardiana, yang mewakili Kepala BBPP Ketindan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa ketahanan dan kedaulatan pangan merupakan fondasi penting bagi stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat sehingga pembangunan pertanian harus terus diperkuat sebagai agenda strategis nasional.
Menurut Junni, sektor pertanian saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, ancaman krisis pangan global, dinamika geopolitik, hingga tekanan terhadap sumber daya lahan dan air. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan dituntut untuk bekerja lebih cepat, adaptif, dan inovatif dalam mendukung pembangunan pertanian.
“Keberhasilan program swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, sarana produksi, maupun teknologi, tetapi juga sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia pertanian, khususnya penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pembangunan pertanian di lapangan,” ujar Junni.
Ia menambahkan, penyuluh pertanian memiliki peran strategis sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah dan implementasinya di lapangan, sekaligus menjadi fasilitator penerapan inovasi teknologi serta pendamping petani dalam meningkatkan produktivitas usaha tani.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi teknis, sekaligus membangun karakter sebagai penyuluh pertanian modern yang profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan berorientasi pada hasil.
Selain itu, para peserta diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dan berbagi pengalaman guna mendukung percepatan pencapaian swasembada pangan berkelanjutan. Dengan demikian, akan lahir penyuluh pertanian yang tangguh, profesional, inovatif, dan berdedikasi tinggi dalam mengawal terwujudnya pertanian Indonesia yang maju, mandiri, modern, dan berkelanjutan. Humas BBPP Ketindan


