Sampang – Upaya mewujudkan swasembada pangan nasional tidak hanya dilakukan melalui penyediaan sarana dan prasarana pertanian, tetapi juga dengan memperkuat kapasitas sumber daya manusia yang menjadi penggeraknya. Karena itu, Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan kompetensi anggota Brigade Pangan melalui berbagai pelatihan yang mengintegrasikan aspek manajerial, kewirausahaan, dan teknis budidaya pertanian.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan program swasembada pangan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang terlibat langsung di lapangan. Menurutnya, Brigade Pangan menjadi ujung tombak dalam percepatan peningkatan produksi pertanian melalui pengelolaan lahan yang lebih modern, efisien, dan produktif.
“Brigade Pangan harus menjadi motor penggerak pertanian modern di tingkat desa. Mereka tidak hanya dituntut mampu mengoperasikan alat dan mesin pertanian, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial, kewirausahaan, serta pemahaman teknis budidaya yang baik agar produktivitas pertanian terus meningkat dan swasembada pangan dapat terwujud,” ujar Amran.
Brigade Pangan merupakan program strategis Kementan yang bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian melalui optimalisasi pemanfaatan lahan, peningkatan Indeks Pertanaman (IP), serta pengelolaan layanan alat dan mesin pertanian (alsintan) secara efektif dan profesional. Keberadaan Brigade Pangan diharapkan mampu mempercepat proses budidaya mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga panen, sehingga frekuensi tanam dalam satu tahun dapat meningkat.
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas tersebut, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan menyelenggarakan Pelatihan Teknis Brigade Pangan Angkatan III pada 22–24 Juni 2026 yang diikuti oleh 44 pengurus Brigade Pangan dari Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam membentuk Brigade Pangan yang tidak hanya terampil di lapangan, tetapi juga mampu mengelola usaha pertanian secara profesional dan berkelanjutan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan bahwa penguatan kapasitas Brigade Pangan menjadi salah satu strategi penting dalam menciptakan sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tantangan pembangunan pertanian.
“Brigade Pangan tidak hanya berperan sebagai operator alsintan, tetapi juga sebagai pengelola usaha pertanian yang harus memiliki kemampuan perencanaan, pengelolaan keuangan, kewirausahaan, serta penguasaan teknologi budidaya. Karena itu, pelatihan yang diberikan dirancang secara komprehensif agar peserta memiliki kompetensi yang utuh dan mampu memberikan manfaat nyata bagi petani di wilayahnya,” ujar Santi.
Salah satu materi penting yang diberikan dalam pelatihan adalah literasi keuangan. Kompetensi ini diperlukan agar anggota Brigade Pangan mampu menyusun pembukuan sederhana, menghitung biaya operasional, menentukan tarif layanan alsintan secara tepat, serta mengelola keuangan kelompok secara akuntabel. Penguatan literasi keuangan menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan usaha layanan alsintan yang dikelola Brigade Pangan.
Selain itu, peserta juga mendapatkan pembekalan kewirausahaan untuk membangun pola pikir bisnis dan meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan unit usaha layanan pertanian. Melalui materi ini, anggota Brigade Pangan didorong untuk mampu mengidentifikasi peluang usaha, membangun kemitraan, meningkatkan kualitas pelayanan kepada petani, serta menciptakan model usaha yang mandiri dan berdaya saing.
Pada aspek teknis budidaya, pelatihan membekali peserta dengan materi pemupukan berimbang guna meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan produktivitas tanaman. Peserta diajarkan cara menentukan dosis pupuk sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan sehingga biaya produksi dapat ditekan tanpa mengurangi hasil panen.
Materi pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) juga menjadi bagian penting dalam pelatihan. Melalui pembelajaran ini, anggota Brigade Pangan dibekali kemampuan melakukan pemantauan, deteksi dini, dan pengendalian hama maupun penyakit tanaman sesuai prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Kompetensi tersebut sangat diperlukan untuk menjaga produktivitas tanaman sekaligus mengurangi risiko kehilangan hasil panen.
Salah satu pengajar dalam pelatihan, Widyaiswara BBPP Ketindan, Lutfi Tri Andriani, memberikan praktik pembuatan pestisida nabati dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar wilayah Sampang, seperti mimba, daun sirih, dan serai wangi.
Menurut Lutfi, pemanfaatan pestisida nabati merupakan salah satu alternatif pengendalian OPT yang efektif dan ramah lingkungan. Selain menekan serangan hama, pendekatan ini juga mendukung penerapan pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang tersedia di sekitar petani.
“Pengendalian OPT yang baik dapat dilakukan melalui pemantauan rutin, sanitasi lahan, penggunaan perangkap, pemanfaatan musuh alami, serta penggunaan pestisida secara bijaksana dan sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Melalui penguatan literasi keuangan, kewirausahaan, serta peningkatan kompetensi teknis budidaya, Kementan berharap Brigade Pangan semakin siap menjalankan peran strategisnya sebagai motor penggerak pertanian modern di tingkat desa. Kompetensi yang terus meningkat akan mendukung optimalisasi layanan alsintan, peningkatan Indeks Pertanaman, dan percepatan terwujudnya swasembada pangan nasional yang berkelanjutan. Lutfi Tri Andriani/ Humas BBPP Ketindan*


