Malang – Upaya meningkatkan kapasitas petani dalam menerapkan budidaya cabai yang sehat, efektif, dan berkelanjutan terus diperkuat melalui kegiatan Manajemen Tanaman Sehat (MTS) Cabai di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Program ini menjadi sarana belajar lapangan bagi petani untuk memahami kondisi tanaman secara langsung sekaligus meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan budidaya berbasis pengamatan agroekosistem.
Kegiatan MTS Cabai telah berlangsung sejak awal Mei 2026 dan dijadwalkan rutin setiap pekan hingga Agustus 2026 dengan melibatkan petani sebagai peserta utama. Pembelajaran dilakukan melalui pengamatan kondisi lahan pertanian serta diskusi kelompok yang berfungsi sebagai kelas belajar petani.
Melalui pendekatan tersebut, petani diajak memahami kondisi pertumbuhan tanaman cabai secara menyeluruh, mulai dari keberadaan hama dan penyakit, populasi musuh alami, kondisi tanah, hingga pengaruh cuaca terhadap perkembangan tanaman.
Pengamatan dilakukan di lahan milik Arif, petani cabai di wilayah Lawang yang menjadi lokasi praktik lapangan. Dalam kegiatan tersebut, peserta bersama-sama melakukan observasi terhadap kondisi tanaman sebelum menentukan langkah budidaya maupun pengendalian yang tepat.
Arif menilai metode pengamatan lapangan memberikan manfaat besar karena membantu petani memahami kondisi tanaman secara nyata sebelum mengambil tindakan.
“Dengan pengamatan seperti ini, petani jadi lebih memahami kondisi tanaman yang sebenarnya. Tidak langsung melakukan penyemprotan, tetapi melihat dulu apakah memang ada serangan hama atau penyakit,” ujarnya Selasa (26/05/26).
Kegiatan berlangsung secara partisipatif sehingga mendorong diskusi aktif antarpetani. Setiap peserta menyampaikan hasil pengamatan sekaligus membandingkan kondisi yang ditemukan di lapangan.
Selain mengenali gejala serangan hama dan penyakit, petani juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem pertanian, termasuk mengenali keberadaan serangga musuh alami yang berperan dalam pengendalian hama secara alami.
Melalui pendekatan MTS, petani diarahkan menerapkan prinsip budidaya cabai sehat mulai dari perlakuan benih, pemupukan, hingga penggunaan pestisida ramah lingkungan. Petani juga mendapat pelatihan pembuatan pupuk organik padat dan cair, agen pengendali hayati (APH), serta penanaman refugia sebagai bagian dari penerapan pertanian berkelanjutan.
Usai pengamatan lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok di rumah anggota kelompok tani yang difungsikan sebagai kelas belajar petani. Suasana diskusi berlangsung aktif dengan saling berbagi pengalaman terkait teknik budidaya, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan, hingga strategi menjaga pertumbuhan tanaman tetap optimal.
Berbagai kendala yang dihadapi petani selama musim tanam cabai turut dibahas bersama guna menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Pendekatan belajar seperti ini dinilai lebih efektif karena petani tidak hanya menerima teori, tetapi juga langsung mempraktikkan dan mengamati kondisi nyata pada tanaman.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa penguatan kapasitas petani menjadi langkah penting dalam menjaga stabilitas produksi hortikultura nasional sekaligus mendukung ketahanan pangan.
“Petani harus didorong semakin maju dengan penerapan teknologi dan budidaya yang tepat agar produktivitas meningkat dan biaya produksi lebih efisien,” ujar Amran.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa proses pembelajaran berbasis lapangan sangat penting untuk meningkatkan keterampilan dan kemandirian petani dalam menghadapi tantangan pertanian modern.
“Peningkatan kompetensi petani harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendampingan dan pembelajaran langsung di lapangan agar petani semakin adaptif dan mandiri,” ujar Idha.
Melalui kegiatan MTS Cabai, diharapkan petani mampu meningkatkan kemampuan analisis terhadap kondisi tanaman sehingga risiko serangan organisme pengganggu tanaman dapat ditekan sejak dini. Selain mendorong peningkatan produktivitas, kegiatan ini juga menjadi upaya menjaga keberlanjutan lingkungan pertanian melalui penerapan budidaya yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Asep Koswara/ Titin*
Diterbitkan di megapolitannews.com


