Revolusi Penyuluhan Pertanian: Penyuluh Go Digital, Gencarkan Edukasi dan Inovasi Lewat Media Sosial
Transformasi digital yang berkembang pesat mendorong perubahan signifikan dalam sistem penyuluhan pertanian di Indonesia. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) kini tidak hanya hadir di lahan dan balai penyuluhan, tetapi juga aktif di wilayah digital melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan YouTube. Langkah ini menjadi bagian dari strategi modernisasi penyuluhan dalam mempercepat diseminasi informasi dan inovasi pertanian kepada masyarakat luas.
Melalui kanal digital tersebut, penyuluh tidak hanya menyampaikan capaian program pembangunan pertanian, tetapi juga mengedukasi masyarakat terkait berbagai topik strategis, seperti teknik budidaya komoditas unggulan, pengendalian hama dan penyakit tanaman, adaptasi perubahan iklim, penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), hilirisasi dan peningkatan nilai tambah produk, hingga strategi pemasaran berbasis digital.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa digitalisasi merupakan kunci percepatan pembangunan pertanian nasional.
“Pertanian hari ini harus adaptif terhadap perkembangan teknologi. Penyuluh pertanian harus hadir di ruang digital untuk mempercepat penyebaran inovasi, memperkuat literasi petani, dan memastikan informasi yang diterima masyarakat adalah informasi yang akurat dan produktif,” ujar Mentan Amran.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa penyuluh memiliki peran strategis sebagai agen perubahan sekaligus komunikator publik sektor pertanian.
“Hari ini penyuluh tidak cukup hanya kuat di lapangan, tetapi juga harus kuat di ruang digital. Media sosial menjadi sarana efektif untuk menyebarkan informasi budidaya, hilirisasi, adaptasi perubahan iklim, hingga pemasaran hasil pertanian,” ujar Santi.
Ia menambahkan bahwa digitalisasi penyuluhan mampu memperluas jangkauan layanan serta mempercepat adopsi inovasi oleh petani, khususnya generasi muda tani yang lebih akrab dengan teknologi.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Nurul Qomariyah, menambahkan bahwa penguatan kapasitas penyuluh dalam literasi digital menjadi prioritas dalam program pelatihan.
“Kami terus mendorong penyuluh untuk tidak hanya kompeten secara teknis di lapangan, tetapi juga mampu mengemas informasi pertanian secara menarik di media sosial. Dengan demikian, inovasi dan keberhasilan pembangunan pertanian dapat diketahui dan dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” jelas Nurul Qomariyah.
Kehadiran penyuluh di wilayah digital juga membuka ruang komunikasi dua arah antara penyuluh dan petani. Petani dapat berkonsultasi, berbagi pengalaman, serta memperoleh solusi atas berbagai permasalahan secara lebih cepat dan efisien.
Digitalisasi penyuluhan menjadi bagian dari upaya mewujudkan pertanian modern yang berbasis teknologi dan informasi. Dengan memanfaatkan media sosial secara produktif, penyuluh pertanian berperan aktif dalam memperluas akses informasi, mempercepat adopsi inovasi, serta memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.


