Sekolah Lapang (SL) Smart Farming Budidaya Tanaman Cabai Rawit Kabupaten Bojonegoro Tahun 2026 memasuki tahap evaluasi budidaya dan persiapan panen. Kegiatan dilaksanakan secara serentak, Rabu (26/8/2026) di Desa Bendo, Kecamatan Kapas, dan Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro.
Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas petani dalam menerapkan teknologi, pengamatan lapangan, serta pengambilan keputusan budidaya berbasis data.
Sebanyak 60 peserta mengikuti kegiatan, masing-masing 30 peserta di Desa Bendo dan 30 peserta di Desa Klepek. Para peserta sebelumnya telah mengikuti rangkaian SL Smart Farming, mulai dari persiapan budidaya, pemantauan pertumbuhan dan pemeliharaan tanaman, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), hingga pemeliharaan pada fase generatif awal.
Di Desa Bendo, kegiatan dibuka oleh Muhammad Kuswoyo dengan menghadirkan Rivana Agustin sebagai narasumber. Sementara di Desa Klepek, materi disampaikan oleh Diana Triswaningsih. Keduanya merupakan Widyaiswara Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan.
Memasuki usia sekitar 42 hari setelah tanam (HST), tanaman cabai rawit di kedua lokasi mulai memasuki fase pembungaan dan pembuahan. Kondisi tersebut menjadi momentum penting bagi peserta untuk melakukan evaluasi pertumbuhan tanaman sekaligus menyiapkan strategi menuju masa panen.
Melalui praktik lapangan, peserta melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi tanaman, perkembangan bunga, pembentukan buah, serta berbagai faktor yang dapat memengaruhi produktivitas. Pengamatan tersebut diarahkan untuk membantu petani mengenali kondisi tanaman secara lebih cepat sehingga tindakan budidaya dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Penerapan Smart Farming juga diperkuat melalui pencatatan dan evaluasi data budidaya. Peserta diberikan pemahaman bahwa data hasil monitoring pertumbuhan, kondisi tanaman, pembungaan, dan pembuahan dapat menjadi dasar dalam menentukan tindakan pemeliharaan berikutnya.
Data tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memperkirakan waktu dan potensi hasil panen. Dengan prediksi yang lebih terukur, petani diharapkan mampu mempersiapkan kebutuhan tenaga kerja, sarana panen, hingga strategi pemasaran secara lebih terencana.
Selain aspek teknis, peserta juga mendapatkan penguatan mengenai analisis usaha tani. Petani diarahkan untuk tidak hanya memperhatikan produktivitas tanaman, tetapi juga menghitung biaya produksi, potensi penerimaan, serta efisiensi usaha yang dijalankan.
Pendekatan tersebut penting agar penerapan teknologi dalam budidaya tidak berhenti pada penggunaan alat atau metode baru, tetapi mampu menghasilkan keputusan usaha tani yang lebih efektif, efisien, dan menguntungkan.
Penerapan pertanian berbasis teknologi tersebut sejalan dengan arah transformasi pertanian yang terus didorong Kementerian Pertanian.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya inovasi dan teknologi dalam membangun pertanian modern sekaligus menarik generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Menurutnya, regenerasi petani perlu dibarengi perubahan cara pandang bahwa pertanian merupakan sektor bisnis modern dengan peluang ekonomi yang besar.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian secara berkelanjutan. Generasi muda dan petani perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi, kebutuhan industri, serta dinamika pasar agar mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian di daerah.
Semangat tersebut tercermin dalam pelaksanaan SL Smart Farming Cabai Rawit di Bojonegoro. Peserta tidak hanya dibekali keterampilan teknis budidaya, tetapi juga diarahkan untuk mengamati, mencatat, mengevaluasi, dan menggunakan data sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
Dengan pendekatan tersebut, SL Smart Farming diharapkan mampu mendorong petani Bojonegoro menghasilkan cabai rawit secara lebih produktif sekaligus mengelola usaha tani secara lebih efisien. Memasuki masa panen, kemampuan membaca kondisi tanaman dan memperkirakan hasil menjadi modal penting bagi petani untuk memastikan budidaya memberikan hasil optimal dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.


