UPT Balai Besar Pelatihan Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketidan mengawali kegiatan pelatihan 2026 dengan menggelar Pelatihan Bagi Brigade Pangan (Manajemen Alsintan) Angkatan I dan II yang dilaksanakan di Distrik Tanah Miring, pada 19-21 Februari 2026. Angkatan I diikuti oleh 45 peserta yang berasal dari tiga Brigade Pangan (BP), yaitu BP Tambat 1, BP Tambat 2, dan BP Tambat 3. Sedangkakan Angkatan II diikuti oleh 30 peserta dari BP Tambat 4 dan BP Pemuda 03.
Pelatihan bagi Brigade Pangan (Manajemen Alsintan) dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kapasitas dan profesionalisme pengelolaan alat dan usaha tani modern dengan pendekatan teori dan praktik lapangan. Selain itu setiap sesi dirancang untuk memperkuat pemahaman manajemen operasional brigade.
Distrik Tanah Miring dikenal sebagai salah satu sentra produksi pangan terus didorong untuk mengoptimalkan pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan). Melalui pelatihan ini, diharapkan brigade pangan mampu bekerja lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Evlin Alang, Koordinator Penyuluh di Distrik Tanah Miring, menyampaikan, bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya penguatan kelembagaan brigade pangan. Ia berharap seluruh peserta dapat menjadi agen perubahan di wilayah masing-masing.
Menurutnya, brigade pangan bukan hanya operator alsintan, tetapi juga penggerak modernisasi pertanian. Oleh karena itu, kompetensi teknis dan manajerial harus berjalan seimbang. Pelatihan Bagi Brigade Pangan (Manajemen Alsintan) juga melibatkan penyuluh pertanian sebagai fasilitator. Seperti, materi pertama yang disampaikan oleh Triya Iryaningsih tentang pengenalan pengoperasian dan perawatan TR 4. Materi ini memberikan penjelasan teknis sekaligus praktik langsung di lapangan. Selain pengoperasian, peserta juga dibekali teknik perawatan berkala. Perawatan yang baik dinilai mampu memperpanjang usia pakai alat serta mengurangi risiko kerusakan di tengah musim tanam.
Materi berikutnya membahas penggunaan rice transplanter yang disampaikan oleh Yudi Winarko. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan pemahaman mengenai cara tanam padi mekanis yang lebih cepat dan seragam.
Materi ketiga adalah Catatan Usaha Tani dan Rencana Tindak Lanjut yang difasilitasi oleh Dewi Nur Hanjani. Materi ini menekankan pentingnya administrasi dan pencatatan dalam usaha brigade pangan. Dalam sesi rencana tindak lanjut, setiap brigade pangan diminta menyusun langkah konkret pasca pelatihan. Hal ini bertujuan agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada tataran teori.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan swasembada pangan optimasi lahan menjadi solusi, tidak hanya pengolahan fisik tanah, tetapi juga harus didukung teknologi pertanian yang tepat guna. Mulai dari penggunaan bibit unggul, alat pertanian modern seperti traktor, rice transplanter, combine hasverter, semua untuk meningkatkan indek pertanaman dan produktivitas pertanian.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pertanian Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa keberhasilan Brigade Pangan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya.
Salah satu peserta pelatihan dari BP Tambat 1, Simon Abaraham, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya pelatihan ini. Ia menilai materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan di lapangan. Menurutnya, kemampuan pengoperasian dan perawatan TR 4 akan sangat membantu meningkatkan produktivitas kerja timnya. Ia berharap pelatihan serupa dapat dilakukan secara berkala.
Pelatihan Bagi Brigade Pangan (Manajemen Alsintan) ini menjadi langkah nyata dalam mendorong transformasi pertanian yang lebih maju, mandiri, dan berkelanjutan di wilayah tersebut.


