Telp/Fax 0341-927123 / 429725

|

Kesehatan dan Keselamatan Kerja Alsintan Dukung Brigade Pangan

Yeniartha
Mar 14, 2025

MALANG – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) menggelar “Training of Trainers” (ToT) Alsintan Mendukung Brigade Pangan yang dilaksanakan pada tanggal 5-13 Maret 2025. Peserta pelatihan yaitu para Penyuluh Pertanian Kabupaten Merauke di sektor pertanian berasal dari Distrik Jagebob, Distrik Kurik, Distrik Malind, Distrik Merauke, Distrik Semangga dan Distrik Tanah Miring. Salah satu tema materi yang dibahas secara intensif adalah pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dalam penggunaan alsintan (alat mesin pertanian).

Alsintan merupakan alat dan mesin yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian, memiliki peran sangat penting dalam memastikan keberhasilan sektor pertanian. Namun, penggunaan alsintan yang tidak memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan kerja, berisiko tinggi bagi penggunanya. Melalui ToT ini, para peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan alsintan secara aman untuk mencegah kecelakaan kerja yang dapat membahayakan kesehatan pekerja.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan, bahwa, keselamatan dan kesehatan para petani serta pengguna alsintan harus menjadi prioritas utama.

“Kita tidak dapat mengabaikan pentingnya perlindungan kerja di sektor pertanian. Dengan melibatkan semua pihak dalam pelatihan ini, kita berkomitmen untuk meningkatkan kualitas kerja dan kesejahteraan petani melalui pemahaman yang lebih baik tentang K3,”jelas Mentan Amran.

Terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, turut memberikan apresiasi terhadap ToT ini.

“Penyuluhan dan pelatihan terkait K3 bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk kesadaran kolektif di kalangan petani dan pekerja. Dengan pelatihan ini, kami berharap setiap individu yang terlibat di sektor pertanian memahami betul pentingnya menjaga keselamatan diri, serta lingkungan kerja mereka agar produktivitas pertanian bisa terus meningkat tanpa mengorbankan keselamatan,”kata Santi.

Sementara itu, Kepala BBPP Ketindan, Nurul Qomariyah, dalam sambutannya, menegaskan bahwa peningkatan kualitas pelatihan terkait K3 sangat diperlukan seiring dengan semakin berkembangnya teknologi pertanian.

“Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat menjadi agen perubahan dalam mengedukasi petani dan pekerja pertanian lainnya mengenai pentingnya menerapkan standar keselamatan kerja dalam setiap penggunaan alsintan,” ujarnya.

Pada sesi pertama pelatihan, Dewi Melani dan Rivana Agusti, widyaiswara BBPP Ketindan, memaparkan berbagai regulasi dan pedoman mengenai kesehatan dan keselamatan kerja dalam industri pertanian, khususnya yang berkaitan dengan penggunaan alat dan mesin pertanian. Dalam penjelasannya, setiap alat atau mesin yang digunakan dalam kegiatan pertanian harus dilengkapi dengan prosedur operasional standar (SOP) yang jelas dan mudah dipahami oleh penggunanya.

Selain itu, peserta juga diberikan pelatihan bagaimana cara mengidentifikasi potensi bahaya yang dapat muncul saat menggunakan alsintan. Beberapa risiko yang sering terjadi termasuk cedera akibat mesin yang bergerak, paparan bahan kimia berbahaya, serta kelelahan akibat penggunaan alat yang tidak ergonomis. Oleh karena itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam menjaga keselamatan kerja.

Para peserta juga dibekali dengan pengetahuan tentang prosedur darurat yang perlu dilakukan jika terjadi kecelakaan saat menggunakan alsintan. Dalam pelatihan tersebut, simulasi pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) juga dilakukan untuk memberikan keterampilan praktis kepada para peserta. Hal ini bertujuan agar mereka dapat segera menangani insiden yang terjadi di lapangan sebelum bantuan medis datang.

Selain aspek teknis, pentingnya pemeliharaan dan perawatan rutin terhadap alsintan juga disampaikan dalam pelatihan ini. Perawatan yang baik tidak hanya memastikan bahwa alsintan berfungsi dengan optimal, tetapi juga mengurangi risiko kerusakan yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja.

Salah satu peserta menuturkan bahwa mereka sangat terbantu dengan banyak wawasan baru yang dapat diterapkan langsung di lapangan.

“Saya merasa sangat terbantu dengan pelatihan ini, terutama mengenai bagaimana cara menjaga keselamatan saat menggunakan alsintan. Saya akan menyampaikan ilmu ini kepada rekan-rekan petani lainnya di desa kami,” kata Edi, peserta dari Distrik Kurik, Kabupaten Merauke. Rivana Agustin*

Diterbitkan di lajurpertanian.com dan megapolitannews.com

Similar Post