BBPP KETINDAN BERSINERGI DAN MENDUKUNG UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIFITAS KELAPA DALAM

Siapa tak kenal kelapa??? hampir tiap hari orang menggunakan tanaman seribu manfaat ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari baik untuk makanan, minuman dan bahan bangunan/furniture. Dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas kelapa semakin rendah yaitu  ᐸ 1,2 ton/Ha (± 50%) dari produksinya karena tanaman kelapa rakyat tergolong tanaman tua yang diwarisi secara turun temurun (Ditjen Perkebunan, 2017). Demikian halnya dengan kondisi di Kabupaten Rembang, adanya penambahan areal pada Tahun 2016 sebesar 7.552 Ha menjadi 7.642 Ha pada Tahun 2017 tidak diiringi dengan peningkatan tanaman menghasilkan ­(TM). Pada tahun 2017 justru terdapat penurunan TM sebesar 18 Ha dan produksi  setara kopra juga turun sebesar 48,7% atau 2011 ton (Dinas Pertanian Kabupaten Rembang, 2017). Bukan tidak mungkin bila usahatani kelapa ini dikelola secara lebih profesional, maka akan dapat memberikan kontribusi yang sangat besar bagi negara ini khususnya dalam menyumbang devisa negara dan peningkatan kesejahteraan petani.

Dalam rangka mendukung program pengembangan kelapa yang telah diluncurkan oleh Kementerian Pertanian, Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan berkontribusi dalam penyiapan sumberdaya manusia pertanian melalui penyelenggaraan Diklat Teknis Perluasan Kelapa yang dilaksanakan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah mulai tanggal 24 – 26 Oktober 2017. Pembukaan diklat yang diikuti 30 orang penyuluh pertanian pendamping dan petani calon penerima manfaat APBNP 2017 dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pertanian yang diwakili oleh Kepala Bidang Penyuluhan yaitu Ir. Sucipto. Selama 4 hari, peserta yang rata-rata belum pernah menanam kelapa ini akan dibekali teknik budidaya kelapa yang baik sesuai dengan hasil identifikasi masalah yang digali bersama petani atau yang disebut dengan materi tematik yang urgent dan harus diberikan solusi pemecahannya.

Sucipto dalam sambutannya menyampaikan beberapa permasalahan dalam pengembangan kelapa yaitu: a). Rendahnya Produktivitas tanaman karena banyaknya tanaman tua dan rusak, serangan hama kwangwung, belum menggunakan benih unggul dan kurangnya pemeliharaan; b)Mutu produk pada umumnya masih rendah, produk masih berbentuk primer dan pengolahanya masih tradisional; c). Rantai tata niaga masih belum efisien, informasi pasar masih belum berkembang di sentra produksi, dan harga yang diterima petani masih rendah; d) Koperasi dan asosiasi petani belum optimal yang mengakibatkan posisi tawar masih lemah; e) Kemitraan antara petani dengan perusahaan yang bergerak dibidang komoditas ini belum ada.

Guna mengatasi permasalahan dan meningkatkan gairah petani untuk berusahatani kelapa, dirinya mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Rembang dalam hal ini Dinas Pertanian telah menyusun strategi kebijakan melalui program pembangunan  perkebunan yang bertajuk “PENINGKATAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN MUTU TANAMAN PERKEBUNAN BERKELANJUTAN”. Tujuannya adalah  meningkatkan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan melalui rehabilitasi, intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi yang didukung oleh penyediaan benih bermutu, penanganan pascapanen dan pembinaan usaha dan perlindungan perkebunan yang difokuskan pada pengembangan komoditas tebu, tembakau, kelapa,  kopi, cengkeh. Fasilitasi dan pembinaan akan diberikan oleh Pemerintah daerah sesuai dengan potensi masing-masing wilayah di Kabupaten Rembang.  Selain itu, kegiatan tersebut juga perlu dibarengi dengan peningkatan kemammpuan sumberdaya manusia melalui pelatihan, pengembangan kelembagaan dan kemitraan, peningkatan investasi usaha dan pengembangan sistem informasi pasar dan manajemen, tambahnya.

Bagikan Artikel :