Cara Handal Menangani Predator Tikus

Akhir - akhir ini serangan hama tikus merajalela di berbagai daerah, sehingga membuat para petani menjadi gelisah. Serangan hama tikus ini diakibatkan karena terjadi ledakan populasi tikus yang tidak terkendali. Pertanyaannya, kenapa bisa terjadi ledakan populasi tikus? Alasannya tidak lain karena lingkungan hidup/ ekosistem yang tidak seimbang lagi antara musuh alami dan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan cenderung krisis / rusak.

Ledakan populasi tikus adalah bukti nyata bahwa hewan pemangsa tikus telah berada pada posisi langka, contohnya hewan ular dan burung hantu yang makin sulit ditemukan di areal lahan pertanian. Kelangkaan musuh alami (predator) tikus tersebut disebabkan oleh kebiasaan (perilaku) masyarakat kita yang gemar atau iseng membunuh dan memburu ular dan burung hantu tersebut untuk dijadikan peliharaan atau bahkan makanan (obat kuat).

Dampak nyata yang terjadi sangat merugikan masyarakat tani, yaitu menurunnya hasil produksi pangan yang dihasilkan bahkan banyak petani yang mengalami gagal panen. Bila hal ini dibiarkan terus menerus, kemungkinan terjadinya bencana rawan pangan bisa terjadi yang akhirnya muncul krisis kesejahteraan masyarakat tani. Mencermati dampak resiko yang diakibatkan ledakan populasi hama tikus ini, maka perlu adanya upaya pengendalian secara terpadu dan berkesinambungan.

Adapun pengendaliannya yaitu meliputi beberapa metode; yaitu metode mekanis meliputi pendekatan kuratif dan antisipasif yaitu meminimalisir berkembangbiaknya hama tikus, maka perlu dilakukan sanitasi lingkungan areal lahan pertanian dengan membersihkan gulma, semak belukar dan rumput gajah supaya tidak digunakan sebagai sarang tikus. Sedangkan tindakan kuratif perlu dilakukan gerakan pengendalian (gerdal) massal yaitu dengan penangkapan / gropyokan dan berburu tikus dengan anjing dengan membongkar lubang – lubang tempat bersarangnya tikus. Disamping itu bias juga dengan pemasangan perangkap – perangkap atau jebakan – jebakan tikus secara tradisional dan modern.

Metode budidaya atau bercocok tanam yaitu dengan melakukan serentak pada suatu hamparan areal pertanian, cara ini bertujuan membatasi dan menghentikan siklus tersedianya sumber makanan yang dibutuhkan oleh hama tikus untuk berkembangbiak. Metode kimiawi yaitu menggunakan fumigasi dan racun pestisida dengan jenis rodentisida, biasanya cara ini terpaksa dilakukan bilamana ledakan populasi hama tikus sudah sangat luar biasa.

Metode secara genetik yaitu dengan menanam varietas tahan tikus yang tentunya saat ini belum dikembangkan, selain itu juga dengan cara memandulkan hewan tikus sehingga diharapkan keturunannya juga ikut mandul, akan tetapi car ini membutuhkan penelitian dan pengkajian lebih lanjut. Metode secara hayati yaitu dengan memanfaatkan musuh alami dengan tujuan menurunkan dan mengendalikan populasi organime pengganggu tanaman (OPT).

Musuh alami bisa berupa parasitoid, pathogen, predator dll, terkait hama tikus ini bisa dikendalikan dengan pengembangbiakan predator yaitu ular dan burung hantu (Tyto Alba) pada umumnya. Pengendalian hama tikus dengan pemanfaatan burung hantu (Tyto Alba) terbukti mampu menekan populasi hama tikus secara efektif, tidak berdampak negatif pada lingkungan, dalam aplikasinya tidak memerlukan biaya dan tenaga karena secara otomatis burung hantu ini memburu dan memakan tikus untuk dijadikan makanannya dan endingnya metode ini bisa dikembangkan oleh petani.

 

Bagikan Artikel :