MATERI DASAR DASAR KEWIRAUSAHAAN DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI BERWIRAUSAHA PENYULUH PADA PELATIHAN DIKLAT DASAR FUNGSIONAL PENYULUH PERTANIAN

Dalam kondisi perekonomian yang semakin sulit, kemampuan berwirausaha merupakan suatu hal yang sangat diperlukan. Kewirausahaan tidak hanya dapat dipahami sebagai kemampuan untuk membuka usaha sendiri. Namun lebih luas lagi, kewirausahaan dapat dimaknai sebagai momentum untuk mengubah mentalitas, pola pikir dan perubahan sosial budaya. Pengertian kewirausahaan sendiri adalah kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan (peluang) bisnis serta kemampuan mengoptimalisasikan sumberdaya dan mengambil tindakan serta bermotivasi tinggi dalam mengambil resiko dalam rangka mensukseskan bisnisnya (http://www.deptan.go.id/ pusbangwiranis/istilah.html). Wiraushawan (Entrepreneur) adalah orang yang mampu melihat peluang, berani mengambil peluang dan mampu mewujudkan peluang tersebut. Kemampuan seperti itu sangat relevan untuk semua orang yang ingin berhasil dalam dunia kerja. Selain itu, entrepreneur yang sukses memiliki banyak karakter positif seperti kreatif dan inovatif, berani mengambil resiko, tangguh menghadapi tantangan, serta jujur pada diri sendiri dan orang lain.

Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan motivasi seseorang adalah melalui pelatihan. Sebagai suatu disiplin ilmu, maka ilmu kewirausahaan dapat dipelajari dan diajarkan, sehingga setiap individu memiliki peluang untuk tampil sebagai seorang wirausahawan (entrepreneur). Bahkan untuk menjadi wirausahawan sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki pengetahuan segala aspek usaha yang akan ditekuninya.

Bila dikaitkan dengan kewirausahaan maka materi kewirausahaan pada Pelatihan Dasar Fungsional Penyuluh adalah proses mentransfer pengetahuan dan ketrampilan dari sumber kepada penerima untuk meningkatkan semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan penyuluh dalam menangani usaha atau upaya mencari, menciptakan, serta menerapkan cara kerja dalam suatu kegiatan usaha untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Dari beberapa pendekatan yang ada, penyelenggaraan pelatihan yang tepat adalah yang lebih mengedepankan pendekatan partisipatif.  Hal ini juga sesuai dengan konsep pelatihan yang selama ini digunakan yaitu menggunakan pendekatan ’Andragogi - Partisipatif’ (mengutamakan partisipasi dari peserta). Secara khusus pendekatan ini digunakan untuk melibatkan peserta pelatihan agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses pelatihan.

Pendekatan Partisipatif juga dirasakan akan lebih efektif karena peserta pelatihan akan ikut berperan lebih aktif dan luas mulai proses analisa kepribadian wirausahan, perencanaan, pelaksanaan proses pemasaran sampai dengan model bisnis Canvas. Materi disajikan sebagai penguatan, sedangkan porsi yang lebih besar diberikan dalam bentuk diskusi, penugasan, simulasi dan/atau praktik. Semua tugas atau praktik yang diminta oleh Widyaiswara (baik tugas individual maupun kelompok) harus dipenuhi sebagai bagian dari proses peningkatan kompetensi peserta pelatihan.

 

 

 

Wijandi (1988) mengungkapkan bahwa kewirausahaan merupakan suatu sifat keberanian, keutamaan dan keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan sendiri. Ada 10 hal yang harus diketahui oleh seorang wirausahawan, yaitu:

(1) Knowing your business;

(2) Knowing the basic business management; 

(3) Having the proper attitude;

(4) Having adequate capital;

 (5) Managing finances effectively;

(6) Managing time efficiently;

(7) Managing people;

(8) Satisfying customer by providing high quality product;.

(9) Knowing how to compete;

(10) Copying with regulations and paperwork;

 

Aplikasi teori kewirausahaan diatas dalam materi dasar kewirausahaan bagi dijabarkan sebagai berikut :

  1. Peserta mendapat tantangan memasarkan produk yang belum dikenal baik oleh yang bersangkutan .  Padahal berdasarkan teori diatas, harus mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Seorang wirausaha harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya dengan usaha atau bisnis yang akan lakukan. Pengalaman peserta pada proses pemasaran hasil produk BBPP Ketindan memaksa peserta untuk memiliki pengetahuan tentang produk yang akan dipasarkannya dalam waktu singkat.  Mereka dapat mencari informasi dari internet, majalah dan lainnya;
  2. Dalam waktu singkat peserta harus faham cara merancang usaha, mengorganisasi dan mengendalikan perusahaan, termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadministnasikan dan membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Hal ini berarti peserta mengetahui manajemen bisnis sehingga dapat memahami kiat, cara, proses, dan pengelolaan semua sumber daya secara efektif dan efisien;
  3. Peserta terbekali sikap yang benar terhadap usaha yang dilakukannya. Peserta telah melakukan pemasaran produk sehingga mereka dapat bersikap sebagai pedagang, dan bersungguh-sungguh melaksanakan praktek pemasaran produk;
  4. Modal tidak hanya berbentuk materi, tetapi juga moril. Kepercayaan dan keteguhan hati merupakan modal utama dalam usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu, uang, tenaga, tempat, dan mental;
  5. Materi model “canvas bisnis” dipraktekkan lebih dalam dengan metode diskusi, sehingga peserta akan  memiliki kemampuan mengatur/ mengelola keuangan secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannya secara tepat, serta mengendalikannya secara akurat. Model canvas bisnis adalah sebuah alat yang berguna untuk memahami bagaimana mekanisme perusahaan bekerja, terutama untuk menggambarkan apa nilai (values) yang dihasilkan perusahaan, bagaimana  cara perusahaan memperoleh  penghasilan (revenue) dan bagaimana perusahaan beroperasi;
  6.  Kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin, terutama dalam proses penjualan produk sehingga peserta dapat mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan kebutuhannya;
  7. Peserta diberikan pembekalan tentang kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan, menggerakan (memotivasi), dan mengendalikan dalam menjalankan kegiatan selama materi dasar dasar kewirausahaan;
  8. Peserta pelatihan memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, bermanfaat, dan memuaskan. Hal ini berdasarkan respon balik dari konsumen baik secara langsung (diantarkan) ataupun tak langsung (titip pesan) melalui pemasaran sistem on line. Hal tersebut sebagai bagian dari pelayanan;
  9. Knowing how to compete, yaitu mengetahui strategi/cara bersaing. Wirausaha, harus dapat mengungkap kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat) dirinya dan pesaing. Ia harus menggunakan analisis SWOT baik terhadap dirinya maupun terhadap pesaing;
  10. Perlu adanya aturan/pedoman yang jelas (tersurat, tidak tersirat), antara peserta selaku penjual dengan widyaiswara penyedia barang, dalam pelaksanaan materi dasar kewirausahaan khususnya materi pemasaran produk.  Secara tersirat sudah dilakukan kesepakatan diantaranya apabila ada keuntungan atau kelebihan laba dari harga dasar maka untuk peserta, barang yang belum terjual bisa dikembalikan, adanya penggantian produk yang dipasarkan dan lainnya.

 

Hasil penyampaian materi dasar dasar kewirausahaan adalah peserta dapat mengetahui hasil analisa sikap secara individual, menambah wawasan berwirausaha, pengalaman memasarkan produk dan memulai usaha secara konseptual.

 

Sumber Pustaka

Herawaty. (2010). Motivasi Berwirausaha. http://www.docstoc.com/motivasi- berwirausaha/docs.

Wijandi, S. (1988). Pengantar Kewiraswastaan. Bandung : Sinar Baru.

 

Rencana seblum memasarkan produk

Aktivitas peserta dalam analisa kepribadian wirausaha

 

Memenuhi pesanan konsumen

Presentasi hasil diskusi model bisnis kanvas

 

Bagikan Artikel :