MENGUNGKAP SEJARAH KAKAO SEBAGAI WARISAN YANG HARUS DILESTARIKAN

Siapa yang tak kenal dengan makanan yang satu ini???”COKLAT” merupakan bahan makanan dan minuman yang sangat digemari berbagai kalangan terutama anak-anak dan remaja. Namun, bisa jadi tidak banyak yang tahu bahwa biji coklat berasal dari tanaman kakao (Theobroma cacao) yang termasuk dalam kelompok tanaman tahunan.

Tanaman kakao di Indonesia awalnya diperkenalkan oleh orang Spanyol 4,5 abad yang lalu atau tepatnya Tahun 1560 di Minahasa, Sulawesi Utara. Pada tahun 1825 – 1838 ekspor kakao di Pelabuhan Manado tercatat sebesar 92 ton. Namun pada Tahun 1919, ekspor kakao mengalami penurunan menjadi 30 ton karena serangan hama dan penyakit yang terjadi pada saat itu, dan akhirnya kegiatan ekspor terhenti pada tahun 1928. Menurut Van Hall, pengembangan kakao berkembang pada Tahun 1859, dimana terdapat 10.000-12.000  tanaman kakao di Ambon yang menghasilkan 11,6 ton biji kakao (Van Hall, 1932). 

Selanjutnya pada Tahun 1880, pengembangan kakao merambah ke Jawa Tengah yang diprakarsai orang beberapa orang Belanda. Mereka mulai melakukan  percobaan menanam kakao di areal perkebunan Jawa Tengah. Melihat prospek yang sangat menjanjikan maka pada Tahun 1888 Henri D. MacGilavry yang mengenal sifat-sifat baik atau mutu kakao Venezuela, mendatangkan puluhan semaian baru dari Venezuela. Pada penanaman pertama, ternyata tidak berbuah manis karena hanya satu pohon yang bertahan hidup. Kemudian, pada saat tanaman tersebut mulai menghasilkan ternyata buahnya kecil-kecil, bijinya gepeng, dan warna kotiledonnya ungu. Hal tersebut terjadi dapat disebabkan karena faktor agroklimat yang tidak sesuai dengan negara asalnya (Venezuela), sehingga sifat-sifat mutu kakao yang muncul tidak sesuai harapan, namun setelah biji-biji yang dihasilkan tersebut ditanam kembali dan mampu beradaptasi dengan agroklimat di Indonesia, ternyata dapat menghasilkan tanaman yang sehat, buah dan bijinya besar, tidak disukai hama penggerek buah kakao (kakao mot) dan Helopeltis.

Akhirnya dari pohon yang memiliki sifat yang baik tersebut dipilih beberapa pohon induk dan dikembangkan secara klonal di Perkebunan Djati Runggo, Salatiga - Jawa Tengah. Melalui nama perkebunan itulah kemudian berkembang klon-klon yang diberi nama “DR” yang diambil dari nama Djati Runggo. Akhirnya tanaman kakao berkembang tidak hanya di wilayah Jawa Tengah namun sampai ke wilayah Jawa Timur dan Sumatera.

Melalui uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan kakao di Indonesia dirintis pertama kali oleh Bangsa Spanyol dan Belanda karena mereka telah melihat potensi yang luar biasa di negeri ini. Mereka menjajah bangsa ini karena tahu bahwa alam kita sangat kaya. Lalu, apakah akan kita biarkan saja alam yang sudah memberikan kemakmuran bagi negeri ini???tentunya tidak. Melalui tulisan ini kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkan warisan yang sudah ada. Memang bukan kita yang memulainya, tapi kita tinggal melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh para pendahulu kita. Jangan sampai kita menyia-nyiakan perkebunan kakao yang sudah eksis di Indonesia.

Walaupun perkebunan kakao Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak awal tahun 1980-an dan pada tahun 2002 areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 914.051 ha dimana sebagian besar (87,4%) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 6,0% oleh perkebunan besar negara serta 6,7% perkebunan besar swasta, namun harus terus dipertahankan dan dilestarikan baik melalui program perluasan maupun peremajaan. Melalui data Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar Direktorat Jenderal Perkebunan Tahun 2017, pengembangan areal tanaman kakao berkembang semakin pesat. Hal tersebut ditunjukkan oleh data sebagai berikut:

Grafik 1. Keragaan Produksi Kakao Tahun 2007-2

 

Selanjutnya bila dibandingkan dengan nilai ekspor kakao pada kurun waktu 10 tahun sebagaimana disajikan pada grafik 2 sebagai berikut:

Sumber: Statistik Perkebunan 2007 – 2016

Keterangan: *) Angka Sementara

Grafik 2. Volume Ekspor 2007-2016*

 

   Sumber: Statistik Perkebunan 2007 – 2016

   Keterangan: *) Angka Sementara sampai Bulan September 2016

 

Melalui data di atas, terlihat jelas bahwa walaupun terjadi peningkatan luas areal, namun produksi kakao dari tahun ke tahun semakin menurun. Selain itu, nilai ekspor biji kakao mengalami penurunan tajam terutama pada akhir tahun 2015 – 2016. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat masalah dalam pengembangan budidaya kakao. Oleh karena itu, pada tahun 2017 dicanangkan program aksi untuk mendukung peningkatan produksi dan mutu kakao melalui Program Anggaran Perencanaan Belanja Negara – Perubahan (APBNP) Tahun 2017 dalam bentuk kegiatan peremajaan dan perluasan kakao. Kegiatan peremajaan kakao seluas 5.475 Ha akan dilaksanakan di 9 Provinsi yaitu Jawa tengah, Aceh, Lampung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, Gorontalo dan Sulawesi Barat yang tersebar di 29 Kabupaten. Selanjutnya kegitan perluasan kakao seluas 900 Ha akan dilaksanakan di 2 Provinsi yaitu Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur yang tersebar di 3 Kabupaten. Upaya peremajaan dan perluasan harus didukung oleh sarana prasarana yang memadai dan penerapan teknik budidaya yang baik melalui good agricultural practices (GAP) kakao, sehingga dapat meningkatkan produksi dan mutu kakao nasional secara signifikan pada beberapa tahun mendatang. Selain dukungan teknis, guna meningkatkan gairah petani untuk menanam kakao, perlu adanya dukungan harga yang layak  dari pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Melalui upaya-upaya tersebut, diharapkan warisan perkebunan kakao dapat lestari di negeri sendiri hingga anak cucu nanti.  

Bagikan Artikel :