Situbondo – Percepatan swasembada pangan nasional tidak hanya ditopang oleh perluasan areal tanam dan modernisasi pertanian, tetapi juga memerlukan sumber daya manusia yang kompeten dalam mengawal program di lapangan. Untuk itu, Kementerian Pertanian terus memperkuat kapasitas penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pendampingan petani dan Brigade Pangan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penyuluh pertanian memiliki peran strategis dalam memastikan berbagai program peningkatan produksi berjalan efektif hingga tingkat petani.
“Penyuluh adalah garda terdepan pembangunan pertanian. Keberhasilan swasembada pangan sangat ditentukan oleh kemampuan penyuluh dalam mengawal petani menerapkan teknologi, meningkatkan produktivitas, dan mempercepat tanam,” ujar Amran.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa peningkatan kompetensi penyuluh merupakan investasi penting untuk mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern.
“Penyuluh harus adaptif terhadap perkembangan teknologi serta mampu menjadi fasilitator perubahan di lapangan. Penguatan kapasitas penyuluh menjadi salah satu kunci keberhasilan program swasembada pangan berkelanjutan,” kata Santi.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Teknis Bagi Penyuluh Pertanian Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan pada 4–6 Juni 2026 di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Pelatihan dilaksanakan dengan metode blended learning. Kegiatan diawali dengan pembelajaran daring pada 4 Juni 2026, kemudian dilanjutkan dengan pendalaman materi dan praktik lapangan secara tatap muka pada 5–6 Juni 2026 di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kapongan.
Sebanyak 10 penyuluh pertanian yang bertugas mendampingi program Optimalisasi Lahan (OPLAH) dan Brigade Pangan di Kabupaten Situbondo mengikuti pelatihan ini. Mereka dipersiapkan untuk memperkuat pendampingan petani sekaligus mendorong peningkatan produktivitas padi di salah satu wilayah penyangga pangan Jawa Timur.
Widyaiswara BBPP Ketindan, Saptini Mukti Rahajeng atau yang akrab disapa Ajeng, menjelaskan bahwa pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam mendukung agenda swasembada pangan nasional melalui penguatan kapasitas penyuluh.
“Penyuluh tidak hanya dituntut menguasai aspek teknis budidaya, tetapi juga mampu mendampingi petani dan Brigade Pangan dalam mengelola usaha tani secara modern, produktif, dan berorientasi agribisnis,” ujarnya.
Materi pelatihan mencakup penerapan teknologi pertanian modern, pengelolaan Brigade Pangan dan alat mesin pertanian (alsintan), digitalisasi penyuluhan, serta pemanfaatan sistem informasi pertanian. Peserta juga dibekali kemampuan dalam mendukung pengelolaan lahan OPLAH agar dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi pangan.
Menurut Ajeng, keberhasilan program OPLAH tidak hanya ditentukan oleh tersedianya lahan yang siap dioptimalkan, tetapi juga oleh kualitas pendampingan kepada petani.
“Lahan yang telah dioptimalkan harus diikuti dengan pengawalan yang kuat. Penyuluh harus mampu menjadi agen perubahan yang mendorong petani menerapkan teknologi dan manajemen usaha tani yang lebih modern,” katanya.
Sebagai bagian dari pembelajaran, peserta melaksanakan praktik pembuatan bahan hayati dan pestisida nabati sebagai pemacu pertumbuhan tanaman. Selain itu, mereka menyusun rencana tindak lanjut yang akan diterapkan langsung di wilayah binaan masing-masing.
Melalui pelatihan ini, penyuluh pertanian di Kabupaten Situbondo diharapkan semakin siap mengawal pelaksanaan program OPLAH dan Brigade Pangan, sehingga mampu meningkatkan produksi padi, memperkuat ketahanan pangan daerah, dan mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional secara berkelanjutan. Ajeng*
Diterbitkan di https://megapolitannews.com/2026/06/06/kawal-oplah-dan-brigade-pangan-penyuluh-pertanian-situbondo-tingkatkan-kompetensi/


