Sebanyak 40 petani melon, perangkat desa dan penyuluh pertanian Desa Klotok, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban melaksanakan kunjungan untuk belajar tentang analisis usahatani Melon berbasis low cost smart farming di Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan, Rabu (4/2/2026).
Analisis usahatani sangat penting dilakukan untuk mengetahui modal usaha, biaya operasional, keuntungan dan kelayakan suatu usaha. Tak hanya itu, petani perlu dibekali dengan analisis usahatani agar dapat meminimalisir risiko akibat fluktuasi harga input maupun output pertanian. Titik awal dalam analisis usahatani adalah menentukan rencana produksi mulai dari pemilihan komoditas, teknologi budidaya dan segmen pasarnya. BBPP Ketindan memiliki fasilitas smart farming baik high -tech dan low cost greenhouse yang dapat dijadikan percontohan bagi petani sebelum memulai usahatani di dalam greenhouse.
Kepala Desa Klotok Suhartoyo menyampaikan bahwa di desanya memiliki potensi pengembangan pertanian yang sangat besar khususnya melon. Ia menjelaskan bahwa terdapat 250 ha lahan yang ditanami melon dan tahun ini rencana akan menjadi tuan rumah dalam acara Pestani bekerjasama dengan Petrokimia Gresik. Ia dan petaninya sangat ingin belajar lebih jauh tentang usahatani yang dilakukan di dalam greenhouse.
Di awal sesi pembelajaran, Suwanto selaku petani melon mengatakan bahwa dirinya selama ini belum pernah melakukan pencatatan usahatani dengan baik. Ia hanya mengandalkan pengalaman dalam menjalankan usahanya tanpa tahu berapa untung rugi usaha yang dijalankan. Suwanto mengaku tidak pernah menghitung secara tertulis dan hanya fokus pada budidaya dan penjualan melon kepada pedagang.
Ridwan petani melon lainnya juga mengatakan bahwa harga jual menjadi faktor utama yang menentukan besarnya keuntungan usaha.
“Jika kami memperoleh harga jual yang tinggi, maka keuntungan kami semakin besar, jika sebaliknya maka keuntungan semakin sedikit”, jelas Ridwan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa penerapan teknologi canggih di sektor pertanian telah menekan biaya sekaligus meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Transformasi menuju pertanian modern membuat penggunaan anggaran lebih efisien dan efektif karena tenaga manusia dapat dialihkan untuk kegiatan produktif dan hasil panen meningkat.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa penerapan teknologi cerdas dalam pertanian diharapkan para petani dapat mengoptimalkan hasil panen, mengurangi kerugian akibat faktor cuaca dan memanfaatkan sumberdaya alam secara lebih efisien.
“Sudah saatnya petani Indonesia maju di bidang pertanian melalui adopsi teknologi melalui smart farming yang mengedepankan teknologi pertanian yang dapat mempermudah kegiatan usahatani, “ ungkapnya.
Nining Hariyani, widyaiswara pengampu sosial ekonomi pertanian BBPP Ketindan menyampaikan ,melalui budidaya low cost smart farming, petani dapat memanfaatkan teknologi pertanian modern tanpa perlu khawatir dengan biaya yang tinggi. Hal ini dapat membantu meningkatkan efisiensi dan pendapatan usaha, mengurangi kerugian dan dapat berkontribusi terhadap pencapaian ketahanan pangan berkelanjutan.
Sementara itu Nunung Nurhadi widyaiswara pengampu budidaya pertanian menambahkan, hal yang perlu diperhatikan dalam teknologi budidaya di dalam greenhouse adalah sterilisasi greenhouse, peralatan dan SDM yang melakukan proses budidaya agar terhindar dari serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Tak hanya itu, penyemaian benih juga menjadi titik awal yang menjadi faktor penentu terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman ke depan.


